Sesekali kita ngomongin
EMAS, yuk!
Seorang Entrepreneur, sejatinya adalah seorang investor. Ada banyak
sekali instrumen investasi, seperti: kongsi bisnis, saham, properti,
emas, reksadana, dan deposito. Semua instrumen itu ada plusnya dan juga
resikonya. Kampung wirausaha sangat tidak merekomendasikan ‘deposito’
sebagai pilhan investasi, lho…
Lah, mengapa?
Ya, coba aja pikir sendiri, apakah deposito itu hasilnya bisa menutupi penurunan nilai uang (inflasi) atau tidak?
Bagi seorang entrepreneur, pilihan terbaik dan termudah menurut saya
adalah emas atau properti. Berikutnya ya pasti investasi bisnislah.
Okelah, karena banyaknya orang yang ngomongin emas, dan kebetulan
akhir-akhir ini ramai sekali yg bicara emas. Berikut kita coba
menampilkan petikan wawancara tabloid KONTAN dengan Rully Kustandar soal
gadai emas dan kebijakan BI.
Semoga ada manfaatnya…
**********
“BI tidak konsisten”, kata Rully Kustandar.
Sosok Rully Kustandar tak bisa dilepaskan dari fenomena investasi
emas yang mernanfaatkan produk gadai emas di bank syariah tanah air. Dia
adalah pencetus ide investasi
“Kebun Emas“. Yaitu, membiakkan emas dengan skema gadai-bergadai di bank syariah atau pegadaian.
Rully mencetuskan metode ini pada 2007. Setelah memasyarakatkan
melalui berbagai seminar, skema ini mencapai puncak ketenaran pada 2009.
Dengan cepat, skema ini menggelembungkan nilai pembiayaan gadai emas
bank syariah.
Puncaknya terjadi pada pertengahan 2011. Belakangan, Bank Indonesia
melihat praktik gadai-bergadai ini memiliki unsur spekulasi sehingga
membuat kebijakan pembatasan bisnis gadai emas bank syariah sejak awal
tahun 2012.
Narna Rully kembali disebut sebut ketika kasus gugatan beberapa
nasabah atas kerugian investasinya di produk gadai emas BRI Syariah
mencuat. Ternyata, skema Beli Gadai yang banyak diadopsi oleh perbankan
syariah ini bikinannya.
Benarkah dia merupakan biang semua masalah bisnis investasi emas di perbankan syariah saat ini?
Pekan lalu, KONTAN mewawancarai Rully untuk mencari tahu duduk persoalan sebenarnya.
KONTAN: Siapa pencetus skema Beli Gadai?
RULLY: Produk beli-gadai itu bukan produk BRI
Syariah atau bank syariah manapun. Konsep itu lahir dari saya, itu
pengembangan dari Kebun Emas. Tujuannya agar orang bisa memiliki emas
dengan harga saat ini, dengan biaya awal 10%-20%, untuk tujuan tertentu
di masa datang.
KONTAN: Apa latar belakang konsep Beli Gadai?
RULLY: Kita jadikan emas untuk mengukur biaya di
masa depan, misalnya biaya sekolah. Lima tahun’ lagi saya akan
menyekolahkan anak ke perguruan tinggi. Dengan emas kita bisa mengukur
biayanya sekarang. Caranya, cari informasi biaya masuk perguruan tinggi
incaran, misalnya Rp 100 juta. Lalu, ukur dengan emas, misalnya dengan
harga emas Rp 500.000 per gram. Berarti, biaya masuk perguruan tinggi
saat ini setara 200 gram emas. Nah, kita harus menabung emas. Bila
terkumpul 200 gram, pasti emas masih cukup untuk membiayai masuk
perguruan tinggi tersebut.
Masalahnya, bagaimana memiliki emas itu sekarang, bukan bulan depan
atau tahun depan? Kita pakai Beli Gadai. Dengan konsep ini kita membeli
emas sejtunlah 200 gram di harga saat ini dengan hanya mengeluarkan
modal 10%-20% dan dalam posisi gadai.
KONTAN: Sesederhana, itu?
RULLY: Satu faktor penting, emas dalam posisi gadai
tersebut harus dimiliki atau dikuasai secara bertahap. Caranya, kita
menabung Setiap bulan sebesar 2 kali biaya titip. Setiap jatuh tempo,
gadai itu diperpanjang, sambil mengurangi pokok utang secara bertahap.
Bila dilakukan konsisten, dalam tiga sampai empat tahun, emas yang
digadai akan benar-benar menjadi milik kita. Jadi, konsep dasarnya, Beli
Gadai lalu dicicil. Ide ini muncul karena tidak ada produk kredit emas
seperti saat ini.
KONTAN: Lalu, kenapa sekarang jadi masalah?
RULLY: Ada dua hal. Pertama, setelah Kebun Emas
booming, mulai banyak orang yang berbicara tentang emas. Konsep Beli
Gadai ini diselewengkan untuk mencari keuntungan. Macammacam caranya.
Jadi, skema ini menjadi lebih ke arah trading ketimbang investasi.
Padahal emas fisik sangat tidak dianjurkan untuk dipakai mencari
keuntungan sesaat.
Kedua, kalau mau jujur, kasus-kasus yang terjadi itu akibat
kebijakan Bank Indonesia (BI) yang tidak konsisten. lbaratnya, mau
memburu tikus di lumbung, tapi dengan membakar lumbungnya.
KONTAN: Tapi BI melihat tanda bahaya dari praktik itu. Masa salah?
RULLY: Tidak ada salahnya, memang harus begitu. Saya
sepakat gadai tidak untuk spekulasi. Saya orang yang mempopulerkan
gadai di bank-bank syariah. Nah, menghilangkan unsur spekulasi di gadai
mudah, cukup hentikan konsep Beli Gadai. Saya mendukung walau konsep itu
lahir dari saya. Saya tidak setuju Beli Gadai yang dimanfaatkan untuk
spekulasi.
Tapi, kalau BI mengubah peraturan secara mendadak dan terkesan tidak
mau tahu seperti sekarang ini tentu semua kelimpungan. Selain itu,
pemberlakuan aturan harus bijaksana. Tak semua orang memakai Beli
Gadai untuk spekulasi. Artinya, penerapan kebijakan itu harus
memikirkan dampak tehadap nasabah.
Selain spekulan, nasabah yang baru mulai juga terkena dampak. Begitu
mau dicicil, tak bisa karena tak boleh memperpanjang gadai.